Yenny Wahid Tekankan Pentingnya Musyawarah dalam Muktamar NU Sebagai Kultur Organisasi

Dalam konteks organisasi Nahdlatul Ulama (NU), pentingnya musyawarah sebagai metode penyelesaian perbedaan kembali ditekankan oleh Yenny Wahid. Politikus perempuan yang juga merupakan putri dari Presiden ke-4 RI, K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), menyatakan bahwa demonstrasi yang disertai kemarahan dan tindakan destruktif tidak sejalan dengan nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh NU. Dalam pandangannya, NU mengedepankan musyawarah sebagai kultur yang seharusnya menjadi landasan dalam menyelesaikan setiap persoalan yang muncul.
Musyawarah: Pilar Utama Nahdlatul Ulama
Yenny Wahid mengungkapkan bahwa demonstrasi yang berujung pada chaos dan kemarahan bukanlah karakter yang mencerminkan Nahdlatul Ulama. Ia berpendapat bahwa setiap perbedaan, baik kecil maupun besar, seharusnya diselesaikan melalui forum musyawarah yang konstruktif. “Kultur NU itu musyawarah. Semua hal, semua perbedaan seyogianya dimusyawarahkan,” kata Yenny saat memberikan pernyataan di Jombang, Jawa Timur.
Pernyataan Yenny ini muncul sebagai respons terhadap dinamika yang berkembang dalam Muktamar ke-35 NU. Muktamar ini tidak hanya menjadi ajang untuk membahas keputusan yang krusial, tetapi juga sering kali memicu aksi demonstrasi dan ketegangan di kalangan peserta. Yenny menekankan bahwa pihak-pihak yang merasa kecewa dengan hasil keputusan muktamar seharusnya menerima keputusan tersebut sebagai kesepakatan yang telah dicapai oleh para muktamirin.
Menerima Keputusan dengan Bijak
Dalam pandangannya, tindakan melampiaskan kekecewaan melalui cara-cara anarkis seperti merusak fasilitas tidak mencerminkan jiwa NU yang damai. “Kalau ada yang kecewa dengan hasil keputusan bukan kemudian dengan cara ngamuk-ngamuk, merusak fasilitas, merusak AC dan lain sebagainya. Itu bukan caranya NU,” tegas Yenny. Dengan kata lain, NU harus menunjukkan sikap yang lebih dewasa dan bijaksana dalam menghadapi perbedaan pendapat.
Yenny juga menyoroti pentingnya keputusan mengenai masa idah politik yang harus diterima oleh semua pihak. Menurutnya, kebijakan ini sangat penting untuk menjaga jarak antara NU dan partai politik, sehingga organisasi ini tidak terjebak dalam kepentingan politik praktis.
Menjaga Netralitas NU dalam Politik
Yenny menegaskan bahwa NU harus tetap berada di atas semua partai politik, menjaga netralitasnya. “NU tetap netral, NU berada di atas semua partai politik, NU itu politiknya kebangsaan,” ujarnya. Hal ini penting agar NU dapat fokus pada permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat tanpa terpengaruh oleh kepentingan politik tertentu.
Politik kebangsaan yang diusung oleh NU seharusnya diarahkan untuk mengatasi berbagai persoalan rakyat dan bangsa, termasuk upaya menjaga persatuan dan kesatuan serta mendorong kesejahteraan masyarakat. Yenny menginginkan agar NU berperan aktif dalam menciptakan solusi yang bermanfaat bagi masyarakat luas.
Harapan untuk AHWA
Dalam konteks pemilihan Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA), Yenny berharap agar para kiai yang terpilih bisa mengambil keputusan terbaik dalam memilih Rais Aam dan Ketua Umum PBNU untuk periode mendatang. Ia yakin bahwa semua kiai yang terlibat memiliki kapabilitas dan integritas yang tinggi. “Semua alim, semuanya fakih. Kita tentu menaruh harapan besar bahwa beliau-beliau itu kemudian bisa mengambil keputusan yang paling pas dalam memilih Rais Aam maupun memilih kandidat ketua umum ke depannya nanti,” harapnya.
Yenny juga berharap agar semua muktamirin dan pihak yang terlibat dalam Muktamar ke-35 dapat menghormati keputusan yang dihasilkan oleh para ulama. Ini penting untuk memastikan keberlangsungan NU dalam menghadapi berbagai tantangan di abad kedua organisasi ini.
Menjaga Tradisi Musyawarah dalam NU
Yenny Wahid menekankan bahwa tradisi musyawarah harus terus dijaga dan diperkuat dalam tubuh NU. Musyawarah bukan hanya sekadar alat untuk mencapai kesepakatan, tetapi juga sebagai wujud dari nilai-nilai keislaman yang mengedepankan dialog dan saling menghargai. Dalam dunia yang semakin kompleks dan penuh tantangan, musyawarah menjadi alat vital untuk mengatasi perbedaan dan menciptakan harmoni di antara anggota NU.
Dalam setiap proses musyawarah, terdapat prinsip-prinsip yang perlu dipegang teguh, antara lain:
- Kejujuran: Setiap peserta musyawarah harus berbicara dengan jujur dan terbuka.
- Salam Hormat: Menghormati pendapat dan pandangan orang lain, meskipun berbeda.
- Keterbukaan: Bersedia mendengarkan dan mempertimbangkan masukan dari semua pihak.
- Kemampuan Beradaptasi: Fleksibilitas dalam menerima perubahan dan perbaikan.
- Komitmen Bersama: Mengutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi.
Pentingnya Dialog dalam Menghadapi Tantangan
Dalam menghadapi tantangan yang ada, NU perlu mengedepankan dialog sebagai langkah awal. Dialog yang baik akan menghasilkan pemahaman yang lebih dalam mengenai berbagai isu yang dihadapi oleh masyarakat. Dengan demikian, keputusan yang diambil akan lebih relevan dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Yenny mengajak seluruh elemen NU untuk bersama-sama menjaga tradisi musyawarah ini. Dalam pandangannya, musyawarah tidak hanya penting untuk menyelesaikan perbedaan, tetapi juga sebagai sarana untuk memperkuat solidaritas dan persatuan di antara anggota NU. Dengan saling menghargai dan menghormati, NU dapat terus berkembang dan memberikan kontribusi positif bagi bangsa.
Menatap Masa Depan NU dengan Optimisme
Yenny Wahid menyatakan keyakinannya bahwa dengan menjunjung tinggi musyawarah, NU akan mampu menghadapi berbagai tantangan yang ada di masa depan. “Kita harus optimis bahwa NU akan terus menjadi garda terdepan dalam menjaga keutuhan bangsa dan negara,” ujarnya. Dalam pandangannya, NU memiliki potensi besar untuk berkontribusi dalam menyelesaikan berbagai masalah yang dihadapi masyarakat.
Keberadaan NU sebagai organisasi yang mengedepankan nilai-nilai kebangsaan dan keislaman harus terus diperkuat. Melalui musyawarah, NU dapat menciptakan solusi yang inovatif dan relevan untuk menghadapi tantangan yang ada. Oleh karena itu, Yenny berharap agar semua pengurus dan anggota NU dapat bersatu dalam semangat musyawarah demi masa depan yang lebih baik.
Dengan harapan yang besar akan masa depan NU, Yenny mengajak semua pihak untuk bersama-sama membangun organisasi ini dengan mengedepankan dialog dan musyawarah. Hanya dengan cara itu, NU bisa terus berkontribusi bagi masyarakat dan bangsa, menjaga persatuan serta mendorong kemakmuran yang berkelanjutan. Setiap langkah yang diambil haruslah sejalan dengan semangat musyawarah yang telah menjadi bagian integral dari kultur Nahdlatul Ulama.
➡️ Baca Juga: Fakta-fakta Tewasnya Prajurit TNI di Lebanon yang Perlu Diketahui
➡️ Baca Juga: Puting Beliung Melanda Ciamis, Akibatnya 83 Rumah Terkena Kerusakan




