2.800 Ayam Mati Mendadak di Sinjai, Kementan Imbau Perketat Biosekuriti Flu Burung H5

Jakarta – Kejadian mengejutkan terjadi di Kecamatan Sinjai Utara, Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan, di mana sekitar 2.800 ekor unggas mengalami kematian mendadak dalam rentang waktu antara 23 September hingga 6 Oktober 2026. Penyebab dari insiden tragis ini telah terkonfirmasi melalui hasil uji laboratorium dari Balai Besar Veteriner (BBV) Maros, yang menunjukkan adanya infeksi Avian Influenza (AI) subtype H5 clade 2.3.2.
Tindakan Kementerian Pertanian
Menanggapi situasi yang mengkhawatirkan ini, Kementerian Pertanian (Kementan) langsung mengambil langkah cepat untuk memperkuat pengendalian serta meningkatkan kewaspadaan di lokasi kejadian. Langkah-langkah ini diharapkan dapat mencegah penyebaran penyakit lebih lanjut dan melindungi kesehatan unggas serta peternak di daerah tersebut.
Respons Awal
Direktur Kesehatan Hewan Kementan, Hendra Wibawa, menjelaskan bahwa penanganan telah dimulai segera setelah laporan awal diterima melalui sistem iSIKHNAS pada tanggal 23 September lalu. Tindakan cepat ini menunjukkan komitmen Kementan dalam menangani masalah kesehatan hewan.
“Setelah laporan diterima, tim kesehatan hewan bersama dengan BBV Maros langsung melakukan penelusuran, pengambilan sampel, serta pemeriksaan laboratorium untuk menentukan langkah pengendalian yang tepat di lokasi tersebut. Fokus utama kami adalah mendeteksi kasus lebih awal, membatasi penyebaran penyakit, dan melindungi peternak,” ungkap Hendra di Jakarta pada 8 Oktober 2026.
Konfirmasi Laboratorium
Kepala BBV Maros, Dinar Hadi Wahyu Hartawan, menekankan pentingnya konfirmasi laboratorium melalui metode RT-PCR, yang menjadi dasar bagi langkah-langkah pengendalian yang lebih akurat dan terarah. Dengan adanya data ilmiah ini, petugas dapat merancang strategi yang lebih efektif dalam menanggulangi insiden ini.
“Hasil konfirmasi laboratorium memberikan landasan ilmiah untuk tindakan pengendalian di lapangan. Setelah penyebab teridentifikasi, langkah selanjutnya adalah memperkuat biosekuriti, melaksanakan surveilans, penelusuran epidemiologi, serta memastikan bahwa setiap kejadian baru segera dilaporkan,” jelas Dinar.
Penyelidikan Epidemiologi
Antara tanggal 30 September hingga 6 Oktober, tim gabungan dari Kementan dan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Sinjai telah melakukan penyelidikan epidemiologi yang mendalam. Proses ini mencakup pengambilan sampel serta pembersihan dan desinfeksi di kandang yang terdampak untuk mencegah penyebaran lebih lanjut.
Faktor Risiko
Hasil penyelidikan menunjukkan adanya faktor risiko yang terkait dengan aktivitas rutin yang melibatkan pertemuan ayam aduan dari berbagai wilayah di Kelurahan Lappa. Beberapa unggas yang terinfeksi diketahui berasal dari luar Kabupaten Sinjai, yang menambah kompleksitas dalam penanganan kasus ini.
- Pergerakan unggas dari daerah lain
- Status kesehatan unggas yang tidak terjamin
- Penerapan biosekuriti yang kurang memadai
- Riwayat pergerakan unggas yang tidak jelas
- Aktivitas rutin yang melibatkan banyak unggas
Dinar menekankan bahwa pergerakan unggas merupakan salah satu aspek krusial dalam pengendalian penyakit. Oleh karena itu, penting untuk menelusuri asal unggas, status kesehatannya, serta penerapan biosekuriti yang dilakukan oleh peternak.
Pernyataan Kementan
Meskipun sejumlah faktor yang ditemukan masih dalam proses investigasi, Kementan menegaskan bahwa tidak ada kesimpulan yang diambil secara terburu-buru mengenai sumber penularan. Proses penyelidikan yang mendalam akan terus dilakukan untuk memastikan bahwa semua aspek diperhitungkan.
Pengawasan dan Tindakan Peternak
Kementan juga mengimbau kepada para peternak untuk tidak menunggu jika mereka menemukan kematian unggas yang terjadi secara mendadak atau tidak wajar. Tindakan cepat diperlukan untuk mencegah meluasnya infeksi.
“Kami meminta kepada peternak agar segera melaporkan kepada petugas kesehatan hewan, Puskeswan, atau dinas terkait agar dapat segera ditindaklanjuti. Tindakan ini sangat penting untuk menjaga kesehatan unggas dan mencegah penyebaran virus lebih lanjut,” tegas Dinar.
Peningkatan Biosekuriti
Selain itu, masyarakat juga diharapkan untuk meningkatkan biosekuriti di lingkungan masing-masing. Langkah-langkah yang dapat diambil meliputi:
- Menjaga kebersihan kandang secara teratur
- Memisahkan unggas yang sakit dari yang sehat
- Membatasi lalu lintas unggas, orang, dan peralatan dari lokasi kejadian
- Melaporkan setiap kasus kematian unggas kepada petugas terkait
- Menerapkan praktik biosekuriti yang lebih ketat di peternakan
“Hal yang terpenting adalah masyarakat tetap tenang, tetapi harus waspada. Pemerintah akan terus bekerja di lapangan, dan setiap perkembangan akan ditangani berdasarkan hasil pemeriksaan dan data yang terverifikasi,” kata Hendra menutup pernyataan.
Dengan langkah-langkah yang diambil oleh Kementan dan kerjasama dari masyarakat, diharapkan penyebaran virus flu burung H5 dapat dikendalikan dan kesehatan unggas di kawasan tersebut dapat terjaga.
➡️ Baca Juga: Trump Bagikan Foto Bersama Kim Jong Un, Menunjukkan Hubungan Baik Antara Keduanya
➡️ Baca Juga: Cek Status dan Aktivasi Rekening PIP 2026: Langkah Praktis untuk Siswa




