Rasa Kekurangan Finansial: Memahami Money Dysmorphia yang Mempengaruhi Banyak Orang

Pernahkah Anda merasakan bahwa, meskipun kondisi keuangan Anda terlihat baik, ada perasaan bahwa uang yang Anda miliki tidak cukup? Ini adalah pengalaman yang umum bagi banyak orang, di mana mereka memiliki tabungan yang memadai, dapat memenuhi kebutuhan bulanan, dan tidak memiliki utang yang signifikan. Namun, setelah melihat teman atau influencer di media sosial melakukan pembelian besar, seperti rumah baru, mobil mewah, atau berlibur ke luar negeri, perasaan kekurangan itu muncul kembali.
Jika Anda pernah merasakan hal tersebut, kemungkinan besar Anda sedang menghadapi fenomena yang dikenal sebagai money dysmorphia. Istilah ini semakin sering muncul dalam diskusi mengenai pengelolaan keuangan di platform sosial media. Namun, apa sebenarnya yang menyebabkan fenomena sosial ini?
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, mari kita telusuri lebih dalam mengenai konsep ini.
Apa Itu Money Dysmorphia?
Money dysmorphia adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan perbedaan antara persepsi seseorang mengenai kondisi keuangan mereka dan realitas keuangan yang sebenarnya. Misalnya, seseorang mungkin memiliki dana darurat yang cukup, mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari, rutin menabung, dan tidak memiliki utang konsumtif yang besar. Secara objektif, kondisi keuangannya mungkin sehat. Namun, jika ia terus membandingkan diri dengan orang lain yang terlihat lebih kaya di media sosial, perasaan ‘miskin’ pun muncul.
Masalah ini tidak melulu berkaitan dengan jumlah uang yang dimiliki, tetapi juga dengan standar yang digunakan untuk menilai apakah seseorang sudah berada dalam kondisi keuangan yang aman atau kaya. Sebaliknya, individu dengan penghasilan tinggi juga dapat mengalami kondisi yang berbeda, di mana mereka merasa sangat mampu membeli berbagai hal, padahal pengeluaran, utang, dan gaya hidup mereka sudah melebihi kemampuan finansial.
Intinya, money dysmorphia adalah tentang persepsi yang tidak sejalan dengan kenyataan finansial yang ada.
Penyebab Money Dysmorphia
Ada beberapa faktor yang dapat memengaruhi pandangan seseorang terhadap uang. Menariknya, masalah ini tidak selalu berkaitan langsung dengan jumlah uang yang dimiliki, melainkan juga cara seseorang melihat kehidupan orang lain dan pengalaman finansial yang mereka alami di masa lalu.
1. Terlalu Sering Membandingkan Diri di Media Sosial
Media sosial sering kali menjadi salah satu penyebab utama money dysmorphia. Setiap hari, kita disuguhkan dengan gambar dan cerita orang lain yang membeli barang-barang mahal, makan di restoran mewah, menginap di hotel bintang lima, atau berlibur ke tempat-tempat eksotis.
Namun, penting untuk diingat bahwa apa yang terlihat di media sosial umumnya hanya sebagian kecil dari realitas hidup seseorang. Kita tidak mengetahui berapa penghasilan mereka, apakah barang-barang tersebut dibeli dengan uang sendiri, seberapa besar utang mereka, atau bagaimana keadaan finansial mereka secara keseluruhan.
Akibatnya, seseorang bisa terjebak dalam perbandingan yang tidak adil antara kondisi keuangannya sendiri dan kehidupan orang lain yang sudah dikurasi untuk menarik perhatian di media sosial.
2. Pengalaman Finansial di Masa Lalu
Cara seseorang memandang uang juga sering kali terbentuk dari pengalaman hidup mereka. Individu yang tumbuh di lingkungan dengan kondisi ekonomi yang tidak stabil, misalnya, bisa membawa rasa takut akan kekurangan uang hingga dewasa. Walaupun situasi finansialnya sekarang jauh lebih baik, pengalaman masa lalu tersebut dapat menciptakan ketidakamanan yang terus membayangi.
Pengalaman kehilangan pekerjaan, terjebak dalam utang besar, atau menyaksikan masalah keuangan dalam keluarga juga dapat memengaruhi cara seseorang memahami keamanan finansial mereka.
3. Standar “Cukup” yang Terus Berubah
Pernahkah Anda merasa sudah memiliki tabungan yang cukup, tetapi merasa jumlah tersebut menjadi sedikit setelah melihat tabungan orang lain? Ini adalah salah satu masalah yang muncul ketika standar kekayaan terus berubah.
Contohnya, seseorang mungkin merasa bahwa memiliki tabungan Rp100 juta adalah pencapaian besar. Namun, setelah melihat orang lain memiliki Rp500 juta, angka tersebut mulai terasa kurang. Ketika akhirnya berhasil mencapai Rp500 juta, standar “cukup” kembali bergeser menjadi Rp1 miliar. Dengan cara ini, meskipun kondisi finansial Anda semakin membaik, perasaan tertinggal tidak akan pernah hilang.
Sebuah survei bernama Modern Wealth Survey 2025 menunjukkan bahwa generasi milenial di Amerika Serikat menganggap sekitar US$2 juta sebagai jumlah kekayaan yang diperlukan untuk merasa kaya. Sementara itu, Gen Z menyebut sekitar US$1,7 juta. Walaupun data ini berasal dari Amerika Serikat dan tidak dapat langsung diterapkan di Indonesia, hal ini menunjukkan bagaimana standar kekayaan subjektif bisa berbeda dari kondisi finansial objektif.
Ciri-Ciri Money Dysmorphia
Meskipun money dysmorphia bukan merupakan diagnosis medis resmi, terdapat sejumlah pola perilaku yang sering kali terkait dengan konsep ini. Seseorang yang mengalami money dysmorphia mungkin:
- Merasa selalu kekurangan, bahkan ketika kondisi keuangannya baik.
- Terus-menerus membandingkan diri dengan kehidupan orang lain di media sosial.
- Terjebak dalam ketakutan untuk mengeluarkan uang untuk kebutuhan yang sebenarnya penting.
- Menjadi terlalu bebas dalam membelanjakan uang tanpa mempertimbangkan dampaknya.
- Mengalami stres atau kecemasan yang berkaitan dengan kondisi keuangan.
Dari pola-pola tersebut, respons seseorang bisa berbeda-beda. Beberapa orang mungkin menjadi terlalu takut untuk menggunakan uang, sementara yang lain mungkin justru menghabiskan uang secara berlebihan.
Dampak Money Dysmorphia
Apabila persepsi mengenai kondisi keuangan tidak sejalan dengan kenyataan, keputusan keuangan yang diambil pun bisa terpengaruh. Mereka yang selalu merasa kekurangan mungkin terlalu takut untuk mengeluarkan uang, bahkan untuk kebutuhan yang penting, seperti pendidikan, investasi, atau perjalanan.
Di sisi lain, individu yang merasa kondisi keuangannya sangat aman bisa mengambil keputusan yang berisiko, seperti membelanjakan uang terlalu banyak atau mengambil utang tanpa mempertimbangkan kemampuan finansial mereka. Dalam jangka panjang, kedua pola ini dapat menghambat kesehatan finansial.
Tekanan psikologis juga tidak boleh diabaikan. Kekhawatiran terkait uang bisa menyebabkan seseorang mengalami kesulitan tidur, kehilangan fokus, atau terus-menerus memikirkan kondisi keuangan mereka.
Bagaimana Cara Mengatasi Money Dysmorphia?
Salah satu langkah awal yang dapat diambil adalah memisahkan perasaan dari angka. Alih-alih terus bertanya, “Apakah saya kaya?”, coba lihat kondisi keuangan Anda dari sudut pandang yang lebih konkret.
Tanya pada diri Anda: Berapa pendapatan Anda? Berapa pengeluaran bulanan Anda? Berapa jumlah utang yang dimiliki? Apakah Anda sudah memiliki dana darurat? Berapa banyak tabungan dan aset yang Anda miliki? Dengan cara ini, Anda dapat membuat ukuran keamanan atau kemerdekaan finansial yang lebih realistis.
Misalnya, alih-alih menggunakan gaya hidup influencer sebagai patokan, tetapkan target tabungan, rasio utang, dana darurat, dan investasi yang sesuai dengan kemampuan dan tujuan pribadi Anda.
Membatasi konsumsi konten yang dapat memicu kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain juga sangat membantu. Semakin sering Anda melihat kehidupan orang lain sebagai standar, semakin mudah perasaan bahwa kondisi Anda masih kurang akan muncul.
Nilai Kondisi Keuangan Anda Dengan Parameter Jelas!
Secara ringkas, money dysmorphia adalah istilah yang menggambarkan ketidaksesuaian antara persepsi seseorang mengenai kondisi keuangannya dan realitas yang ditunjukkan oleh angka. Seseorang bisa merasa miskin meskipun kondisi finansialnya relatif aman, sementara orang yang berpenghasilan tinggi pun bisa merasa sangat aman meskipun sebenarnya berisiko tinggi secara finansial.
Faktor-faktor seperti media sosial, pengalaman finansial di masa lalu, tekanan ekonomi, dan perubahan standar kekayaan dapat membentuk cara seseorang melihat uang. Untuk menghindari money dysmorphia, penting untuk menilai kondisi keuangan Anda berdasarkan angka, kemampuan, dan tujuan pribadi, bukan dari kehidupan orang lain yang terlihat di media sosial. Memahami kondisi finansial secara realistis dapat membantu Anda membuat keputusan yang lebih rasional dan membangun hubungan yang lebih sehat dengan uang.
➡️ Baca Juga: Cara Efektif Menjaga Kesehatan Mulut Agar Selalu Bersih Setiap Hari
➡️ Baca Juga: Polresta Bandung Tangkap 4 Tersangka dalam Kasus Dugaan Rudapaksa