pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

slot depo 10k slot depo 10k
Pendidikan

Pemerintah Harus Tingkatkan Skor Matematika PISA 2025 yang Terus Menurun

Jakarta – Hasil skor PISA 2025 yang dirilis oleh OECD pada 8 September 2026 menunjukkan adanya pencapaian positif dalam literasi membaca dan sains bagi siswa Indonesia. Namun, di sisi lain, terdapat tantangan besar yang harus dihadapi terkait dengan kemampuan numerasi atau matematika yang mengalami penurunan dua poin dibandingkan dengan hasil PISA sebelumnya pada tahun 2022. Dengan skor 364 untuk matematika, 365 untuk membaca, dan 389 untuk sains, hasil tersebut mencerminkan stagnasi yang mengkhawatirkan jika dibandingkan dengan capaian pada tahun 2015. Hal ini menimbulkan pertanyaan besar mengenai efektivitas kebijakan pendidikan yang diterapkan.

Pentingnya Menangani Penurunan Skor Matematika

Indra Charismiadji, seorang pemerhati pendidikan dari Universitas Harkat Negeri, mengungkapkan bahwa istilah stabil yang digunakan untuk mendeskripsikan hasil PISA kali ini justru menunjukkan adanya masalah serius. Ia menyampaikan bahwa situasi ini dapat disamakan dengan seseorang yang terbaring di ruang ICU tanpa ada perubahan positif dalam kondisi kesehatannya. “Secara teknis itu stabil, tetapi tidak ada dokter yang akan menganggapnya sebagai keberhasilan,” ungkap Indra.

Lebih lanjut, ia menyoroti bahwa proporsi siswa yang berada di bawah tingkat kompetensi minimum (Level 2) mengalami kenaikan yang signifikan sejak 2015. Dalam hal ini, angka tersebut meningkat 14 poin persentase di matematika, 18 poin di membaca, dan 7 poin di sains. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun ada upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan, institusi pendidikan sendiri masih menghadapi tantangan besar.

Definisi PISA dan Fokusnya

PISA, atau Programme for International Student Assessment, merupakan sebuah asesmen yang dilakukan oleh OECD untuk mengukur kemampuan siswa berusia 15 tahun dalam tiga bidang kunci: membaca, matematika, dan sains. Pada PISA 2025, fokus utama asesmen adalah literasi sains. Meskipun secara umum banyak negara anggota OECD mengalami penurunan skor, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) Indonesia justru menyoroti hasil positif dari kenaikan skor literasi dan sains tanpa memberikan perhatian yang cukup pada penurunan skor matematika.

  • PISA dirancang untuk mengukur kemampuan siswa berusia 15 tahun.
  • Fokus PISA 2025 adalah literasi sains.
  • 75% negara OECD mengalami penurunan hasil PISA tahun ini.
  • Hasil PISA menunjukkan stagnasi dalam kemampuan numerasi Indonesia.
  • Hasil PISA seharusnya menjadi acuan untuk perbaikan kebijakan pendidikan.

Tanggapan terhadap Hasil PISA 2025

Ketua Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah Kemendikdasmen, Toni Toharudin, menyambut hasil PISA 2025 dengan optimisme, mengklaim bahwa kebijakan yang diterapkan sudah berada di jalur yang benar. Ia mencatat adanya peningkatan skor membaca dari 359 ke 365 dan sains dari 383 ke 389 dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, penurunan skor matematika dari 366 menjadi 364 menimbulkan tanda tanya besar mengenai keberhasilan kebijakan tersebut.

Indra Charismiadji menilai bahwa kenaikan skor yang kecil tersebut tidak cukup signifikan untuk dianggap sebagai perbaikan yang berarti. Ia berpendapat bahwa perbandingan yang lebih relevan adalah antara hasil PISA 2025 dan target yang ditetapkan oleh pemerintah dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) untuk tahun yang sama. Dalam konteks ini, baik skor membaca maupun sains masih jauh dari target yang diharapkan, sejalan dengan skor matematika yang juga belum memenuhi harapan.

Implikasi dari Hasil PISA

Peningkatan skor yang dipajang sebagai prestasi oleh Kemendikdasmen justru dapat menimbulkan persepsi yang keliru mengenai realitas pendidikan di Indonesia. “Jika pejabat kementerian tidak menyadari bahwa mereka memiliki target yang lebih tinggi dari hasil yang dirayakan, maka itu adalah masalah lebih besar,” tambah Indra. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat kesenjangan antara harapan dan kenyataan, yang seharusnya menjadi perhatian serius bagi para pembuat kebijakan.

Dalam konteks ini, penting bagi pemerintah untuk tidak hanya fokus pada pencapaian jangka pendek, tetapi juga menetapkan strategi jangka panjang yang berkelanjutan untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Melihat tren penurunan skor matematika yang berkelanjutan, langkah-langkah konkret perlu diambil untuk memperbaiki kurikulum, pelatihan guru, dan metode pengajaran.

Strategi Meningkatkan Skor Matematika PISA 2025

Untuk dapat meningkatkan skor matematika pada PISA 2025, ada beberapa langkah strategis yang bisa diambil oleh pemerintah dan lembaga pendidikan. Berikut adalah beberapa rekomendasi yang dapat dipertimbangkan:

  • Peningkatan Kualitas Pelatihan Guru: Pelatihan yang lebih intensif dan berkelanjutan bagi guru matematika untuk meningkatkan kompetensi pengajaran.
  • Revitalisasi Kurikulum: Pengembangan kurikulum yang lebih relevan dan menarik bagi siswa, dengan fokus pada aplikasi nyata dari matematika dalam kehidupan sehari-hari.
  • Peningkatan Akses terhadap Sumber Belajar: Menyediakan lebih banyak sumber belajar yang berkualitas, termasuk buku, perangkat lunak, dan materi online yang dapat diakses oleh siswa.
  • Penerapan Metode Pembelajaran Inovatif: Mengadopsi metode pembelajaran yang lebih interaktif dan kolaboratif, seperti pembelajaran berbasis proyek atau penggunaan teknologi dalam kelas.
  • Evaluasi dan Monitoring Berkala: Melaksanakan evaluasi berkala untuk memantau kemajuan siswa dan mengidentifikasi area yang perlu ditingkatkan lebih lanjut.

Peran Orang Tua dan Masyarakat

Selain upaya pemerintah dan lembaga pendidikan, peran orang tua dan masyarakat juga sangat penting dalam meningkatkan kompetensi matematika siswa. Keterlibatan orang tua dalam proses belajar anak, baik di rumah maupun di sekolah, dapat membantu menciptakan lingkungan belajar yang positif.

Beberapa cara orang tua dapat berkontribusi termasuk:

  • Mendorong Minat Belajar: Membantu anak menemukan minat mereka di bidang matematika dengan cara yang menyenangkan.
  • Memberikan Dukungan Moral: Selalu memberikan dukungan dan dorongan kepada anak saat mereka menghadapi kesulitan dalam belajar.
  • Menjadi Contoh: Menunjukkan pentingnya matematika dalam kehidupan sehari-hari, seperti dalam perhitungan belanja atau pengelolaan keuangan.
  • Berkolaborasi dengan Sekolah: Mengikuti pertemuan orang tua dan guru untuk mendiskusikan kemajuan anak dan mencari solusi untuk masalah yang dihadapi.
  • Menawarkan Waktu Belajar Bersama: Menghabiskan waktu bersama anak untuk belajar dan menyelesaikan tugas-tugas matematika.

Kesimpulan: Menyongsong Masa Depan Pendidikan Matematika

Peningkatan skor matematika PISA 2025 harus menjadi prioritas bagi pemerintah dan lembaga pendidikan di Indonesia. Dengan adanya penurunan yang berlanjut, jelas bahwa langkah-langkah yang lebih efektif dan terarah perlu diambil untuk memastikan bahwa siswa Indonesia dapat bersaing di tingkat internasional. Melalui kolaborasi antara pemerintah, lembaga pendidikan, orang tua, dan masyarakat, diharapkan pendidikan matematika dapat mengalami transformasi yang positif, menghasilkan siswa yang tidak hanya mampu secara akademis, tetapi juga siap menghadapi tantangan di dunia nyata.

➡️ Baca Juga: Siap-Siap, Penerimaan Polri 2026 Segera Dibuka Jalur Akpol, Bintara, dan Tamtama! Simak Infonya

➡️ Baca Juga: Tautan Nonton Bayern Munchen vs Bodo/Glimt di Liga Champions 2026/27 yang Wajib Anda Cek

Related Articles

Back to top button