Negara-Negara Terbaik di Dunia dalam Kemampuan Membaca yang Didominasi oleh Asia

Hasil penilaian kemampuan membaca siswa di seluruh dunia kembali diumumkan melalui Programme for International Student Assessment (PISA) 2025. Saat dirilis pada September 2026, laporan ini menunjukkan bahwa negara-negara Asia mendominasi peringkat teratas dalam hal kemampuan membaca. Penilaian yang melibatkan lebih dari 760 ribu siswa ini, yang mewakili sekitar 33 juta anak berusia 15 tahun, dilakukan oleh Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) untuk menilai kemampuan siswa dalam menerapkan pengetahuan dan keterampilan mereka pada situasi dunia nyata. Dalam artikel ini, kita akan menjelajahi negara-negara yang menonjol dalam kemampuan membaca dan memahami faktor-faktor yang mendorong keberhasilan mereka.
Daftar Negara Terbaik dalam Kemampuan Membaca
PISA 2025 memberikan penilaian terhadap 40 negara dan wilayah berdasarkan rata-rata skor kemampuan membaca siswa mereka. Berikut adalah daftar sepuluh negara teratas dalam bidang membaca, dengan fokus pada dominasi negara-negara Asia:
- Singapura – Peringkat: 1, Skor rata-rata membaca PISA: 535
- China – Peringkat: 2, Skor rata-rata membaca PISA: 527
- Taiwan – Peringkat: 3, Skor rata-rata membaca PISA: 508
- Jepang – Peringkat: 4, Skor rata-rata membaca PISA: 503
- Makau – Peringkat: 5, Skor rata-rata membaca PISA: 501
- Korea Selatan – Peringkat: 5, Skor rata-rata membaca PISA: 501
- Irlandia – Peringkat: 7, Skor rata-rata membaca PISA: 500
- Estonia – Peringkat: 8, Skor rata-rata membaca PISA: 499
- Selandia Baru – Peringkat: 9, Skor rata-rata membaca PISA: 497
- Inggris – Peringkat: 10, Skor rata-rata membaca PISA: 494
Dominasi Negara-Negara Asia dalam Kemampuan Membaca
Negara-negara Asia menunjukkan hasil yang mengesankan dalam penilaian kemampuan membaca PISA 2025. Singapura, dengan skor 535, menempati posisi teratas, diikuti oleh China dengan skor 527. Taiwan dan Jepang juga menunjukkan performa yang sangat baik, masing-masing dengan skor 508 dan 503. Makau dan Korea Selatan berbagi peringkat kelima dengan skor 501, menunjukkan bahwa enam posisi teratas didominasi oleh sistem pendidikan dari kawasan ini.
Dalam konteks ini, Singapura menjadi sorotan utama. Sistem pendidikan di negara ini dikenal memiliki kurikulum literasi yang terstruktur dengan baik. Pendekatan ini mencakup pembelajaran membaca yang dipandu, diskusi interaktif, dan dukungan khusus bagi siswa yang mungkin mengalami kesulitan, mulai dari tingkat dasar. Selain itu, kurikulum bahasa Inggris di Singapura sangat menekankan pada kemampuan berpikir kritis, di mana siswa dilatih untuk membuat kesimpulan, mengevaluasi argumen, mencari bukti, dan memahami berbagai jenis teks secara kritis.
Prestasi Negara Eropa dalam Kemampuan Membaca
Di sisi lain, Irlandia mencatatkan skor tertinggi di antara negara-negara Eropa dengan nilai 500. Estonia mengikuti dengan skor 499, sementara Inggris berada di posisi ketiga dengan skor 494. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun negara-negara Eropa memiliki sistem pendidikan yang kuat, mereka masih harus berupaya lebih keras untuk mencapai tingkat yang sama dengan negara-negara Asia.
Berkaitan dengan negara-negara besar di Eropa, beberapa di antaranya berada di bawah rata-rata OECD, yang saat ini tercatat di angka 461. Misalnya, Jerman mencetak skor 465, sedangkan Prancis dan Spanyol berada di bawah rata-rata dengan skor 456 dan 451. Ini menunjukkan tantangan yang dihadapi oleh sistem pendidikan di negara-negara tersebut.
Perbandingan Skor Amerika Serikat dan Kanada
Amerika Serikat dan Kanada masing-masing memperoleh skor 490, berbagi peringkat ke-12 dalam penilaian PISA. Meskipun skor ini berada 29 poin di atas rata-rata OECD, keduanya masih tertinggal di belakang negara-negara seperti Inggris, Australia, Irlandia, dan Estonia. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa minat membaca untuk hiburan di Amerika Serikat terus menurun. Pada 2025, hanya 16,1 persen dari populasi berusia 15 tahun ke atas yang membaca untuk bersantai secara teratur, turun signifikan dari 27 persen pada tahun 2005.
Mengamati Perkembangan Kemampuan Membaca di Indonesia
Meski Indonesia tidak termasuk dalam jajaran negara dengan skor tertinggi, hasil PISA 2025 menunjukkan adanya peningkatan yang signifikan dalam kemampuan membaca siswa Indonesia. Skor rata-rata mereka meningkat enam poin menjadi 365. Peningkatan ini dianggap sangat positif, terutama mengingat banyak negara OECD mengalami penurunan skor rata-rata.
Menurut informasi dari puslapdik.kemendikdasmen.go.id, capaian ini semakin berarti mengingat Coverage Index Indonesia melonjak dari 0,46 pada tahun 2003 menjadi 0,90 pada PISA 2025. OECD memberikan apresiasi terhadap keberhasilan Indonesia dalam memperluas akses pendidikan formal tanpa mengorbankan kualitas. Selain itu, pelajar di Indonesia menunjukkan tingkat keingintahuan yang tinggi, serta kemampuan belajar mandiri yang baik. Mereka bahkan lebih aktif dalam menilai kredibilitas konten yang berkaitan dengan kecerdasan buatan (AI) dibandingkan dengan banyak negara lainnya.
Pendidikan di Era Digital
Di era digital saat ini, kemampuan membaca menjadi semakin penting. Dengan meningkatnya penggunaan teknologi, siswa dituntut untuk tidak hanya mampu membaca teks cetak, tetapi juga memahami informasi yang tersedia secara online. Ini menciptakan tantangan baru bagi pendidik dan siswa dalam mendalami literasi digital.
Negara-negara yang berhasil dalam pendidikan membaca biasanya memiliki pendekatan yang inovatif dan adaptif, yang memungkinkan siswa untuk menghadapi tantangan di dunia yang terus berubah. Penggunaan teknologi dalam pengajaran membaca, seperti aplikasi pembelajaran dan platform digital, telah terbukti meningkatkan keterampilan membaca siswa secara signifikan.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kemampuan Membaca
Berbagai faktor berkontribusi terhadap keberhasilan negara-negara dalam kemampuan membaca. Beberapa di antaranya meliputi:
- Pendidikan yang berkualitas dan berfokus pada pengembangan keterampilan dasar.
- Kurikulum yang terstruktur dan menyeluruh, yang mengedepankan literasi sejak usia dini.
- Dukungan orang tua dan masyarakat yang kuat terhadap pendidikan.
- Penerapan teknologi dalam pembelajaran.
- Lingkungan belajar yang mendukung dan sumber daya pendidikan yang memadai.
Dengan memahami faktor-faktor ini, negara-negara lain dapat mengambil pelajaran untuk meningkatkan kemampuan membaca di kalangan siswa mereka. Upaya untuk memperbaiki sistem pendidikan harus dilakukan secara berkelanjutan dan melibatkan berbagai pemangku kepentingan, termasuk pemerintah, pendidik, dan masyarakat.
Menghadapi Tantangan di Masa Depan
Dengan perkembangan teknologi dan perubahan sosial yang cepat, tantangan dalam pendidikan, terutama dalam kemampuan membaca, akan semakin kompleks. Negara-negara yang ingin bersaing di panggung global perlu beradaptasi dan mengembangkan strategi yang sesuai untuk meningkatkan kemampuan membaca di kalangan siswa mereka.
Inisiatif seperti program pertukaran pelajar, kolaborasi internasional dalam penelitian pendidikan, dan berbagi praktik terbaik antar negara dapat membantu mempercepat peningkatan kemampuan membaca. Selain itu, penting untuk terus memonitor dan mengevaluasi kebijakan pendidikan agar tetap relevan dengan kebutuhan zaman.
Dengan hasil PISA 2025 yang menunjukkan dominasi negara-negara Asia dalam kemampuan membaca, saatnya bagi negara lain untuk belajar dari keberhasilan mereka. Investasi dalam pendidikan dan fokus pada pengembangan keterampilan membaca adalah kunci untuk mempersiapkan generasi mendatang menghadapi tantangan global.
➡️ Baca Juga: UMKM Langkat Didorong Menjadi Motor Penggerak Ekonomi Daerah yang Kuat dan Berkelanjutan
➡️ Baca Juga: Basarnas Maksimalkan Sumber Daya untuk Pencarian Jurnalis Hilang di Krakatau




