Jenazah ABK Kapal Jurnalis Hilang Ditemukan di Bengkulu dan Akan Dimakamkan di Pandeglang

Jakarta – Penemuan jenazah Surakman, salah satu kru kapal cepat KM Arupadatu I, menjadi berita duka yang menyentuh banyak pihak. Surakman, yang berusia 60 tahun, hilang dalam kontak saat mengantar rombongan jurnalis di perairan Selat Sunda, Pandeglang. Jenazahnya telah tiba di Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, pada hari Kamis, 24 September, setelah diberangkatkan dari Bengkulu pada pukul 06.05 WIB. Situasi ini menciptakan kepedihan mendalam bagi keluarga dan rekan-rekannya, serta menggugah perhatian publik terhadap keselamatan pelayaran di perairan Indonesia.
Proses Pengiriman Jenazah
Proses pengiriman jenazah Surakman melibatkan kerjasama antara berbagai pihak. Anggota Biddokkes dan Polda Bengkulu melakukan serah terima jenazah kepada Biddokkes Polda Banten di Bandara Soekarno Hatta. Kombes Pol Imam Wijayanto, Kabid Humas Polda Bengkulu, mengonfirmasi bahwa pengiriman ini dilakukan oleh maskapai penerbangan yang sama dengan Kepala Bidang Kedokteran dan Kesehatan Polda Bengkulu.
Ipda S Ramlan, Kepala Kepolisian Sub Bandara Fatmawati Soekarno Bengkulu, menambahkan bahwa jenazah Surakman telah dikirim melalui kargo yang berangkat dari Bandara Fatmawati Soekarno. Jenazah tiba di bagian kargo bandara tersebut sekitar pukul 04.15 WIB, menandai langkah awal untuk pemakaman yang akan dilakukan oleh pihak keluarga di Pandeglang, Provinsi Banten.
Rencana Pemakaman
Pihak keluarga telah bersiap-siap menunggu kedatangan jenazah di rumah duka di Pandeglang. Rencananya, jenazah Surakman akan dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Ki Demang, Carita. Yayat Suryadi, anak Surakman, menjelaskan bahwa Gubernur Banten direncanakan akan hadir dan melaksanakan prosesi sholat jenazah di Masjid Agung sebelum pemakaman berlangsung.
“Rencananya, Pak Gubernur akan datang sekitar waktu zuhur atau siang. Setelah sholat, kami akan langsung mengantar jenazah ke TPU Ki Demang di Carita,” ungkap Yayat, yang menunjukkan betapa pentingnya momen ini bagi keluarga dan masyarakat setempat.
Identifikasi Jenazah
Polda Banten telah mengungkapkan bahwa jenazah yang ditemukan di Pulau Enggano, Kabupaten Bengkulu Utara, telah teridentifikasi melalui pencocokan DNA. Hasil tersebut menunjukkan bahwa jenazah yang ditemukan identik dengan Surakman, kru KM Arupadatu I, yang dilaporkan hilang kontak pada tanggal 7 September. Proses identifikasi dilakukan oleh tim Disaster Victim Investigation (DVI) Pusdokkes Polri secara mendetail.
Sebelumnya, pada 12 September, Polda Bengkulu mengirimkan sampel DNA dari jenazah tanpa identitas yang ditemukan di Pulau Enggano ke Pusat Kedokteran dan Kesehatan Polri. Pengiriman ini dilakukan setelah dilakukan autopsi oleh Biddokkes Polda pada jenazah tersebut.
Temuan Jenazah di Pulau Enggano
Penemuan jenazah tanpa identitas di Pulau Enggano, yang dilaporkan pada 12 September, menjadi perhatian publik. Pihak Basarnas Bengkulu menerima laporan mengenai penemuan mayat di kawasan Pesisir Sawang Bengkok, Desa Khayapu. Proses penyelidikan dan identifikasi kemudian dilakukan untuk memastikan identitas jenazah tersebut.
Imam Wijayanto menjelaskan bahwa hasil pemeriksaan menyatakan bahwa jenazah tersebut bukan berasal dari masyarakat sekitar atau warga asli Pulau Enggano. Hal ini menegaskan bahwa jenazah tersebut adalah korban dari insiden yang terjadi di perairan tersebut.
Dampak Kejadian Terhadap Komunitas
Kejadian hilangnya kontak kapal KM Arupadatu I dan penemuan jenazah Surakman menimbulkan keprihatinan di kalangan masyarakat, terutama terkait dengan keselamatan pelayaran di perairan Indonesia. Hal ini juga mendorong pihak berwenang untuk meningkatkan pengawasan dan penanganan terhadap kapal yang berlayar di wilayah tersebut.
- Keberadaan sistem navigasi yang lebih baik.
- Peningkatan pelatihan untuk kru kapal.
- Penguatan koordinasi antara instansi terkait dalam penanganan kondisi darurat.
- Peningkatan kesadaran masyarakat akan keselamatan pelayaran.
- Pemberian informasi yang jelas mengenai kondisi cuaca dan jalur pelayaran.
Kesimpulan
Penemuan jenazah Surakman menggambarkan betapa rentannya keselamatan pelayaran di perairan Indonesia. Masyarakat berharap bahwa melalui kejadian ini, langkah-langkah preventif dapat diambil untuk mencegah insiden serupa di masa mendatang. Soliditas antara pihak berwenang dan masyarakat akan menjadi kunci untuk menjaga keselamatan di laut.
➡️ Baca Juga: Dodhy Kangen Band Mengklarifikasi Isu Bubar dan Alasan Perselisihan dengan Andika
➡️ Baca Juga: Fakta-fakta Tewasnya Prajurit TNI di Lebanon yang Perlu Diketahui




