IHSG Terpengaruh Sentimen Global dan Domestik, Apa Prospek Kekuatan atau Kelemahan?

Pasar saham Indonesia, yang diwakili oleh Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), sedang menghadapi tantangan yang signifikan akibat dinamika sentimen baik dari tingkat global maupun domestik. Pada hari Senin, IHSG diprediksi akan bergerak fluktuatif, mencerminkan reaksi pasar terhadap berbagai faktor yang mempengaruhi kepercayaan investor.
Pergerakan IHSG dan Indeks LQ45
Pada pembukaan perdagangan, IHSG tercatat mengalami penurunan sebesar 7,01 poin, atau setara dengan 0,11 persen, yang menempatkannya di level 6.511,11. Di sisi lain, Indeks LQ45 yang mencakup 45 saham unggulan juga terpantau mengalami penurunan, dengan penurunan 1,11 poin atau 0,17 persen, berada di angka 640,71.
Analisis Teknikal IHSG
Menurut Liza Camelia Suryanata, Kepala Riset di Kiwoom Sekuritas Indonesia, selama IHSG dapat mempertahankan posisinya di atas level 6.357, masih ada peluang untuk penguatan. Ia menambahkan bahwa jika indeks berhasil menembus resistance di level 6.551, kemungkinan akan terus bergerak menuju level 6.635 dan 6.733. Sebaliknya, jika tekanan jual meningkat dan indeks menembus support di level 6.454, maka IHSG berpotensi terkoreksi ke 6.385 hingga 6.377 sebagai level support yang kuat.
Sentimen Geopolitik Global
Dari perspektif internasional, situasi geopolitik di kawasan Timur Tengah menunjukkan tanda-tanda perbaikan, khususnya terkait dengan kekhawatiran mengenai gangguan pasokan minyak. Pelaku pasar kini memandang konflik di Iran lebih sebagai isu ekonomi dan sanksi, daripada ancaman nyata terhadap pasokan energi global.
“Dengan membaiknya arus pengiriman melalui Selat Hormuz dan rencana pengembangan koridor antara Iran dan Oman, premi risiko terhadap pasokan energi global juga telah menurun,” jelas Liza.
Pengaruh Inflasi dan Kebijakan Moneter AS
Namun, pernyataan dari Ketua The Fed, Kevin Warsh, yang mengindikasikan bahwa inflasi masih belum menunjukkan tanda-tanda perlambatan yang signifikan, menambah kekhawatiran di kalangan investor. Hal ini menunjukkan bahwa proses penurunan tekanan harga mungkin akan memakan waktu lebih lama.
Liza menambahkan bahwa kondisi ini mendorong investor untuk melakukan reposisi portofolio, terutama pada saham-saham yang berorientasi pertumbuhan yang sensitif terhadap fluktuasi ekspektasi suku bunga.
Kebijakan Moneter dan Inflasi
Fokus utama saat ini adalah bagaimana The Fed akan mengelola kebijakan moneternya di tengah inflasi yang tetap berada di atas target 2 persen. Kevin Warsh mencatat bahwa pembuat kebijakan di AS masih memiliki pekerjaan yang harus diselesaikan untuk menurunkan tekanan harga menuju target yang ditetapkan.
“Pernyataan tersebut memperkuat persepsi bahwa kebijakan moneter AS mungkin akan tetap ketat lebih lama jika perkembangan inflasi tidak menunjukkan perbaikan yang signifikan,” ungkap Liza.
Regulasi Baru di Bursa Efek Indonesia
Dari sisi domestik, Bursa Efek Indonesia (BEI) telah mengumumkan rencana untuk menguji coba perubahan batas minimum harga saham, yang akan turun dari Rp50 menjadi Rp1 per saham di pasar reguler dan pasar tunai. Uji coba ini dijadwalkan berlangsung pada 22 dan 29 Agustus 2026, dengan target implementasi pada 7 September 2026.
Relaksasi Kewajiban Devisa Hasil Ekspor
Sementara itu, pemerintah juga telah memberikan relaksasi terhadap kewajiban penempatan Devisa Hasil Ekspor (DHE) bagi 64 eksportir di sektor pertambangan melalui Pasal 18A PP Nomor 21 Tahun 2026, yang mulai berlaku untuk Pemberitahuan Pabean Ekspor (PPE) pada 1 September 2026.
Eksportir yang memenuhi kriteria kini hanya diwajibkan untuk menempatkan minimal 30 persen DHE SDA selama minimal tiga bulan, dibandingkan ketentuan sebelumnya yang mewajibkan 100 persen selama minimal 12 bulan. Namun, seluruh hasil ekspor tetap diwajibkan untuk direpatriasi ke Sistem Keuangan Indonesia.
Dampak Kebijakan Terhadap Pelaku Pasar
CORE Indonesia memperkirakan bahwa kebijakan ini dapat mencakup potensi DHE sekitar 30 miliar hingga 40 miliar dolar AS per tahun, terutama berasal dari perusahaan-perusahaan dalam rantai industri nikel, baja berbasis nikel, Freeport, alumina, dan mineral olahan lainnya.
“Relaksasi ini memberikan fleksibilitas likuiditas yang lebih besar bagi eksportir, tetapi di sisi lain, juga mengurangi jumlah devisa yang wajib mengendap dalam sistem keuangan domestik dalam jangka panjang,” tambah Liza.
➡️ Baca Juga: Eropa Masih Menghadapi Tantangan Krisis Energi yang Berkelanjutan dan Belum Pulih
➡️ Baca Juga: Harga HP Xiaomi Naik Hingga Rp2,2 Juta Akibat Krisis Chip Memori yang Mengganggu Pasokan




